Review Buku: KH. ALI MAKSUM Ulama, Pesantren dan Nahdlatul Ulama
Oleh: Ahmad Athoillah
Nama KH. Ali Maksum sudah pasti dikenal oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia saat ini, khususnya di kalangan pesantren dan warga NU. Dalam memori kolektif masyarakat Islam di Yogyakarta maupun di Indonesia pasti memiliki pemahaman yang berbeda-beda dalam melihat KH. Ali Maksum. Dalam pandangan umat Islam, sosok KH. Ali Maksum tentu akan dilihat sebagai seorang ulama, tokoh pesantren dan NU. Berbeda dalam kalangan pesantren dan NU, mereka akan melihat “Kiai Ali” sebagai tokoh penting yang membawa perubahan besar dalam sistem pendidikan kegamaan pesantren yang moderat dan arah organisasi NU yang dikenal sebagai momentum “kembali ke khithah 1926”. Pada pandangan keluarga, kolega, santri, mahasiwa dan kader NU, mereka lebih melihat sosok Kiai Ali sebagai “seorang bapak maupun guru”. Bagi masyarakat Yogyakarta pada umumnya, nama KH. Ali Maksum lebih diidentikan dengan nama sebuah pesantren dan jalan di bilangan selatan kota Yogyakarta.
Berbagai keragaman pandangan dalam melihat sosok KH. Ali Maksum di atas, merupakan bukti jika KH. Ali Maksum tetap hadir dalam memori kolektif masyarakat pada umumnya sebagai bagian realitas di masa lalu. Walaupun begitu, masyarakat luas belum tentu secara utuh mengetahui riwayat kehidupan Kiai Ali. Dengan berjalannya waktu, nama KH. Ali Maksum kemudian hanya dikenal sebagai seorang tokoh “Kiai Krapyak” dan seorang rais ‘Am PBNU pada masa hidupnya.
Kembali untuk merekonstruksi riwayat hidup KH. Ali Maksum sebagai tokoh ulama, Ppesantren dan NU pada abad ke-20 dalam bingkai sejarah Indonesia menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Tentu hal tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah, karena membutuhkan sumber maupun data dan penyajian yang relevan untuk menggambarkan kembali sosok Kiai Ali pada masa hidupnya. Semakin menurunnya kesadaran atas perhatian sejarah kehidupan seorang tokoh ulama, pesantren dan NU maka juga diikuti dengan menurunnya kesadaran dalam melestarikan sumber-sumber sejarah milik pelaku sejarah.
Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengenang kembali sosok KH. Ali Maksum, seperti penggunaan nama nya untuk nama jalan raya dan pondok pesantren maupun peringatan atas hari kematiannya (haul) yang diadakan oleh keluarga dan pondok pesantren Krapyak setiap tahunnya. Selain itu, banyak juga dilakukan penelitian ilmiah, liputan maupun penulisan catatan kehidupan dalam berbagai karya ilmiah, media cetak maupun online yang semuanya mengambil topik, tema dan objek penelitiannya tentang pesantren Krapyak dan KH. Ali Maksum. Semua yang dilakukan tersebut bertujuan untuk kembali menyegarkan memori individu dan kolektif akan sosok Kiai Ali pada masa ini, walaupun semuanya terkadang tidak secara utuh dan rinci dalam menggambarkannya. Berbagai realitas di atas tersebut, telah menggugah saya untuk mencoba mendokumentasikan sejarah kehidupan KH. Ali Maksum secara utuh dengan pendekatan ilmiah dalam bentuk karya biografis.
Buku ini mencoba mendokumentasikan kembali perjalanan kehidupan Kiai Ali yang lahir di Lasem pada tahun 1915 dan menjalani masa kecilnya di kampung Soditan, Lasem. Buku ini juga menyajikan perjalanan hidup Kiai Ali sejak ia tinggal di Lasem, studi keagamaan di Tremas, bermukim di Krapyak, merintis perkembangan pesantren Krapyak dan menjadi tokoh NU sampai wafatnya pada tahun 1989. Penyusunan biografi ini berfungsi untuk melengkapi penelitian-penelitian yang telah dilakukan secara khusus dalam menelaah kehidupan Kiai Ali seperti karya Zuhdi Muhdlor (1989), Badrun&Humaidy (1999), Fauzan (2008), Suchaimi (2011), Munawwir AF (2014), Willy (2010) ,dan Ma’rifatun (2016). Hadirnya buku ini diharapkan mampu sebagai wahana pemantik ingatan di masa lalu bagi mereka yang pernah bersinggungan langsung dengan KH. Ali Maksum semasa hidupnya. Selain itu, penulisan buku ini juga diharapkan mampu membuka informasi seluas-luasnya tentang kehidupan KH. Ali Maksum bagi para pemerhati maupun penggiat studi sejarah ketokohan dan studi sosial keagamaan di Indonesia abad 20.
Dalam buku ini, penulisan biografi Kiai Ali dimulai dari latar belakang kehidupannya seperti asal-usul keluarga dan lingkungan sosial-budaya, khususnya ketika Kiai Ali tumbuh dewasa di Lasem. Pembahasan selanjutnya adalah masa studi keagamaan Kiai Ali di berbagai tempat seperti di Pekalongan, Tremas dan Mekah. Kisah kehidupan Kiai Ali kemudian dilanjutkan pada masa dirinya tinggal di Krapyak, Yogyakarta dimana ia membentuk rumah tangga serta membangun identitas keulamaan, pesantren dan NU. Berbagai perjalanan kehidupan Kiai Ali melewati pergantian zaman seperti masa kolonial, pendudukan Jepang, masa revolusi, orde lama dan orde baru dalam usahanya mengembangkan identitas “diri”, pesantren Krapyak dan terpilih menjadi rais ‘Amm NU (1981-1984) juga menjadi bagian yang menarik dalam pembahasan buku ini.
Dalam perjalanan hidupnya, Kiai Ali hadir ditengah-tengah masa keterpurukan NU khususnya pasca NU keluar dari Masyumi pada tahun 1952. Pada masa tersebut adalah masa-masa tersulit yang dihadapi oleh kalangan ulama, pesantren dan NU, khususnya pada masa transisi dari kekuasaan orde lama ke orde baru di Indonesia. Secara spesifik, kajian ini juga memperlihatkan tentang bentuk interaksi dan sosialisasi personal Kiai Ali semasa hidupnya dengan umat Islam, ulama, pesantren dan NU. Berbagai peristiwa penting sosial-keagamaan yang bersinggungan dengan kehidupan Kiai Ali juga akan ditampilkan secara urut dan utuh dalam buku ini.







