Mengenal Mbah Kyai Ma’shum Lasem
Oleh: M Luthfi Thomafi
SIAPA ITU MBAH MA’SUM? Ia adalah “seorang guru dari Lasem yang kurang dikenal pada tingkat nasional, namun kematiannya pada tahun 1972 menimbulkan goncangan yang terasa dari ujung jaringan satu ke ujung lainnya,” demikian kata Denys Lombard dalam Le Carrefour Javanais: Essai d’Histoire Globale. “Ia seorang yang suka berkunjung ke kaum shalihin, khususnya para santrinya, dan dia seorang yang memiliki konsistensi (dzu istiqamah) pada Sunnah dan Manhaj al-Aslaf,” demikian komentar KH. Maimun Zubeir dalam Tarâjum Masyâyikh al- Ma’âhid ad-Dîniyah bi Sarang al-Qudamâ.
Memang banyak komentar dan pujian untuk ayah kandung dari KH. Ali Ma’shum ini, mulai dari konsistensinya di dalam ibadah kepada Allah, mengasuh dan men- didik para santri, menyampaikan pengajian untuk mem- beri pencerahan kepada masyarakat, hingga kegiatan politik yang dilakukannya. Akan tetapi, semua itu di mata- nya bukanlah hal yang besar dan patut ia banggakan. Ia sendiri merasa bangga justru karena dia mencintai dan menyayangi kaum papa, orang-orang fakir dan miskin yang ada di sekitarnya.
Ya, itulah Mbah Ma’shum. Ia justru merasa “ada” bukan karena peran dan kiprahnya yang besar di tengah-tengah masyarakat, meski peran ini tidak bisa dimungkiri dan diabaikan oleh siapa pun juga karena memang nyata adanya. Juga, ia tak merasa ada karena telah menghasilkan sekian banyak tokoh besar nasional sekelas Prof. Dr. Mukti Ali, misalnya. Ia bangga justru karena ia telah mengabdikan dirinya untuk sesuatu yang tampak remeh sekaligus mendasar, yakni membantu dan memberdayakan kaum yang tak berpunya. Mbah Ma’shum bahkan mendaku komitmen sosialnya ini sebagai tharîqah: sebentuk laku sosial dan spiritual yang jelas-jelas memilki nilai ilahiah.
Barangkali di sinilah “nilai urgen” menghadirkan seorang Mbah Ma’shum di masa sekarang ini. Ia tidak sekadar melakukan pemberdayaan sosial dengan mengentaskan kaum fakir dan miskin; bahkan ia memaknainya lebih jauh, yakni sebuah jalan (tharîqah) dalam mendekatkan diri kepada Tuhannya. Dan, ia bangga dengan tharîqahnya ini. Pada akhirnya, ia memang pantas beroleh tempat yang selayaknya, di mata Tuhan dan manusia.







