Bulan Besar
Jangan dipikirkan secara harfiah bahwa bulan besar adalah bulan yang berukuruan besar. Bulan besar merupakan arti harfiah dari Idul Akbar, atau lebih dikenal dengan sebutan bulan Dzul Hijjah terkadang juga disebut bulan haji, karena pada bulan ini umat melaksanakan Rukun Islam yang ke-5. Bulan ini menempati urutan terakhir (bulan ke-12) dalam sistem penanggalan jawa maupun Dzul Hijjah. Bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan yang dimulikan Allah SWT.
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari)
Kemulian bulan itu ditandai dengan janji Allah yang akan memberikan berbagai kemulian bagi orang yang memuliakan, sebaliknya juga menyiapkan ancaman bagi orang bertindak maksiat. Sayangnya kemulian bulan Dzul Hijjah kurang mendapat perhatian yang serius dari sebagian masyarakat. Mereka menganggap seperti pada bulan bulan lainnya. Padahal banyak dalil yang meyebutkkan betapa besar pahala yang disediakan Allah demi menyambut kemulian bulan ini. Beberapa dalil tersebut misalnya sabda Nabi berikut ini:
شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ
”Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya: bulan Ramadlan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari).
Rentang waktu yang paling mulia ketika Dzulhijjah adalah 10 hari pertama. Karena itulah, perbuatan baik yang dikerjakan selala 10 hari pertama bulan besar ini Menjadi amal yang sangat dicintai Allah. Nabi berpesan :
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh,.).” (HR. Ahmad).
Dalam hadis di atas Nabi menyatakan dengan jelas bahwa berbuat baik setara dengan jihad fisabilillah. Amal salih tentu saja cakupanya sangat luas dan universal. Setiap tindakan yang mendatangkan kemaslahatan dan kemanfaatan bagi diri sendiri maupun masyararakat, jika memang diiringi dengan ketulusan hati karena ingin mendapat ridha Allah termasuk amal salih. Akhlak dan perilaku mulia terhadap sesama tanpa memandang siapupun dia merupakan juga inti dari amal saleh. Puasa sunah, shalat-shalat sunah, zikir, sedekah, membaca al-Qur’an merupakan bagian dari amalan saleh ini, dan merupakan perbuatan yang disunnahkan. Menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan menghindari kerumunan dalam rangka mencegah penularan virus corona juga merupakan amal salih yang bernilai ibadah. Mumpung diberi kesempatan maka alangkah baiknya jika waktu 10 hari Dzul Hijjah ini digunakan sebaik-baiknya dalam rangka mendapatkan keberkahan dan kemulian bulan ini.
(Mukhlisin Purnomo)







