Teladan Kiai Ali Maksum
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj

Kiai Ali Maksum merupakan putra dari Kiai Maksum Lasem. Beliau lama mondok di Tremas, mengaji kepada Kiai Dimyathi, dari kecil hingga dewasa. Saking seniornya beliau dipercaya menjadi Kepala Madrasah Aliyah.
Banyak sekali bimbingan-bimbingan beliau ketika di Tremas, yang kemudian menjadi tokoh. Antara lain, Prof. Dr. Mukti Ali (1971-1978), mantan Menteri Agama Republik Indonesia, yang betul-betul didikan Kiai Maksum. Kemudian, beliau mukim di Makkah. Sepulang dari Makkah, beliau menikah dengan putrinya Kiai Munawwir, pengasuh Pesantren Krapyak.
Ketika menjadi bagian dari keluarga besar Pesantren Krapyak, Kiai Ali Maksum hanya melihat pengajaran tahfidz saja, santri-santri hanya menghafal al-Qur’an, tidak memperdalam kitab kuning. Kemudian, beliau melakukan perubahan yang cepat, dengan mendirikan madrasah, sebagai wadah bagi santri untuk memperdalam kajian kitab kuning. Pertama kali, yang menjadi santri-santri madrasah itu saudara-saudara iparnya. Maka, semua iparnya, dari Kiai Zainal Abidin, Kiai Zaini, Kiai Dalhar, itu muridnya semua.
Hingga, dalam perkembangannya, Kiai Ali Maksum menjadikan pesantren Krapyak sebagai pusat pengembangan keilmuan, sebagai rujukan ulama-ulama Indonesia untuk memperdalam kajian khazanah pengetahuan Islam klasik. Pada waktu itu, yang menjadi rujukan para santri untuk belajar, yakni pesantren Krapyak. Di samping, pesantren Tebu Ireng, Denanyar dan Tambak Beras, yang ketiganya berada di kawasan Jombang.
Kiai Ali Maksum merupakan sosok yang terbuka, sangat familier. Kalau ada santri yang bermain pingpong, beliau malahan duduk di atas meja pingpong. Beliau sangat nyentrik, naik sepeda motor vespa yang terkesan gagah. Saya menyaksikan, Kiai Ali Maksum itu sangat ramah dan murah senyum, sangat memperhatikan santri-santrinya. Beliau hafal nama-nama santri yang mondok di pesantren Krapyak, hingga menjadi jembatan keakraban. Santri-santri merasa disayang dan dikasihi oleh Kiai Ali Maksum. Sungguh, Kiai yang istimewa.
Dalam kenangan saya, Kiai Ali Maksum itu menyedikitkan tidur pada waktu malam. Biasanya, beliau tidur sekitar jam dua dini hari, dan bangun menjelang subuh. Tentu saja, waktu-waktu beliau dimanfaatkan untuk mengaji, mendidik santri dan beribadah. Kiai Ali Maksum ketika tengah malam juga sering mengelilingi kawasan pesantren, sambil merapal wirid dan membaca shalawat. Di samping mengajar di pesantren, Kiai Ali Maksum juga menjadi dosen di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Kiai Ali dipercaya oleh Prof. Hasby as-Shiddiqie sebagai guru besar andalan di bidang tafsir dan bahasa Arab. Di kalangan cendekiawan, Kiai Ali Maksum dinyatakan sebagai kamus berjalan.
Dalam proses membesarkan Pesantren Krapyak, Kiai Ali Maksum mengembangkan pesantren Krapyak dalam dua kawasan. Pesantren yang khusus untuk ibtidaiyah dan Aliyah di sebelah selatan. Kemudian, beliau membeli tanah di belakang ndalem, untuk santri-santri mahasiswa. Di asrama mahasiswa ini, menjadi pondok saya ketika nyantri di Krapyak. Juga, Pak Masdar Farid Mas’udi, Pak Ali As’ad, Pak As’ad Ali dan Pak Slamet Efendy Yusuf, juga bertempat di asrama mahasiswa ketika nyantri di Krapyak. Menurut informasi, ketika mondok di Krapyak, Gus Mus juga asrama ini.
Semua santri yang dibimbing langsung oleh Kiai Ali Maksum, semuanya ‘alim. Santri-santri itu sekarang menjadi rujukan masyarakat sekitarnya, bahkan menjadi tokoh agama dengan kealiman yang tidak diragukan. Ini tentu berkah didikan dan doa dari sang guru, betapa Kiai Ali Maksum tidak sekedar mendidik santri, tapi juga mendoakan agar ilmu yang dipelajari manfaat.
Dalam bidang pergerakan politik, Kiai Ali Maksum memiliki prinsip yang bersendi nilai-nilai fikih. Singkatnya, apa pilihan sikap dan pandangan politik-kebangsaan Kiai Ali, ada dasarnya. Pada masa Orde Baru, Kiai Ali Maksum mengambil sikap politik yang sangat keras. Pada waktu itu, Kiai Ali menolak keras keberadaan Golkar. Beliau pernah berseberangan dengan kebijakan pemerintahan Soeharto, dan politik Orde Baru. Kemudian, pada tahun 1979, beliau menjadi Rais ‘Am, menggantikan Kiai Bisri Syansuri yang wafat.
Ketika itu, pada 1981, Muktamar Nahdlatul Ulama diselenggarakan di Kaliurang, Yogyakarta. Kiai Ali Mahrus, sebagai sesepuh dan kandidat kuat Rais ‘Am, pulang ke Lirboyo karena tidak mau dipilih menjadi pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama. Kiai Ali Maksum juga sama, pulang ke Krapyak. Akan tetapi, karena lokasi Muktamar di Yogyakarta, dekat dengan kediaman beliau, dijemput oleh beberapa kiai dan dimohon menjadi Rais ‘Am.
Kiai Ali Maksum sangat dihormati oleh kiai-kiai pesantren di negeri ini. Kiai Idris Tebu Ireng, Kiai Mahrus Ali Lirboyo, Kiai Hamid Pasuruan, dan kiai-kiai pesantren lainnya, sangat hormat kepada Kiai Ali Maksum. Ketika menjadi Rais ‘Am, sebagai pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama, Kiai Ali Maksum memberikan perspektif yang segar dalam kepemimpinan organisasi ini. Terlebih, Kiai Ali Maksum merupakan sosok yang bersahaja dan sangat ramah.
Setelah kepemimpinan Kiai Ali Maksum, Kiai Ahmad Shiddiq terpilih menjadi Rais ‘Am. Itu terjadi pada Muktamar 1984 di Situbondo, Jawa Timur. Kiai Ahmad Shiddiq merupakan sosok yang amat keras, yang konsisten dengan pendapat dan pandangannya terhadap Islam dan keindonesiaan. Perpaduan yang serasi dengan Gus Dur sebagai Ketua Umum.
Kiai Ali Maksum dihormati oleh dua kutub kelompok: kiai pesantren dan barisan intelektual. Kiai-kiai pesantren sangat menghormati Kiai Ali Maksum, dengan segenap keluasan ilmunya, teladan sikapnya, dan sikap ramahnya. Sementara, barisan cendekiawan juga menaruh hormat yang tinggi kepada Kiai Ali Maksum, karena pengetahuannya yang luas dan mendalam dalam cakrawala keislaman dan kebangsaan. Kiai Ali Maksum, dalam kenangan personal saya, merupakan guru yang meluaskan panorama intelektualitas saya. Ketika ngaji di pesantren Lirboyo, saya mendapatkan bekal ilmu alat. Nah, ketika saya berproses di pesantren Krapyak, mengaji kepada Kiai Ali Maksum, cakrawala keilmuan terbentang luas. Beliau berpesan, bahwa ilmu itu sangat luas, tidak sekedar apa yang saya kuasai saat itu. Masih ada peradaban (tsaqafah), sejarah (tarikh), dan beragam keilmuan lainnya. Ini menunjukkan betapa Kiai Ali Maksum sangat menguasai khazanah kitab klasik, sekaligus merespons perkembangan zaman.
Saya menyaksikan, koleksi kitab-kitab Kiai Ali Maksum sangat banyak, ada di kamar pribadi beliau. Kitab-kitab itu, boleh dibaca santri-santri yang diberi izin khusus beliau, namun tidak boleh dibawa keluar ruangan. “oleh diwoco, haram digowo”, itulah sebuah tulisan peringatan yang ditempel di kamar beliau, untuk menandai peraturan bagi santri-santri yang mengakses kitab beliau.
Sungguh, riwayat orang-orang ‘alim yang sudah wafat, itu merupakan warisan pelajaran dan hikmah yang berharga. Bagi siapapun yang menziarahi pengetahuan, keilmuan dan teladan Kiai Ali Maksum, pasti akan mendapatkan cahaya-cahaya keindahan yang demikian terang.
[Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan, dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu, Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas] (QS Yasin: 12)
Catatan keteladanan dan kisah-kisah yang hadir dalam perjalanan panjang kehidupan Kiai Ali Maksum akan selalu dikenang santri-santrinya, terlebih keluarganya. Kisah-kisah ini juga menjadi warisan keteladanan bagi masyarakat luas.
Dari Kiai Ali Maksum, saya mendapatkan pencerahan bagaimana melesatkan sayap-sayap keilmuan yang saya kuasai. Bimbingan Kiai Ali Maksum sangat melekat di hati, bahkan hingga kini masih sering terngiang, bagaimana beliau mengajari saya dan santri-santri lainnya. Kiai Ali Maksum, menguatkan perspektif keilmuan bagi santri-santrinya.
Ibaratnya, proses mengaji di Lirboyo menguatkan fondasi intelektual, mengaji dengan Kiai Ali Maksum itu mengembangkan kapasitas dan cakrawala pemikiran. Sedangkan, pada tahapan selanjutnya, saya belajar banyak dari Gus Dur. Dari pondasi dan cakrawala pengetahuan itu, saya diajari Gus Dur, bagaimana menggunakan ilmu untuk menebar manfaat. Bagaimana menggunakan ilmu yang saya miliki, untuk mewarnai kehidupan di lingkungan kita.
Kenangan yang tidak akan pernah terlupakan, Kiai Ali Maksum merupakan sosok kiai yang sangat sabar mendidik santri-santrinya, mendidik keluarganya. Kiai Ali Maksum juga sosok yang sangat toleran, waasi’us shadr. Cara bergaul beliau, berkomunikasi dengan siapapun, dengan orang dari kelompok manapun. Kiai Ali Maksum mempraktikkan cara berdakwah yang patut diteladani. Beliau ketat dalam mengajar dan mengaktualisasikan nilai-nilai fikih, tapi lebih dari itu, bagi Kiai Ali Maksum, di atas fikih ada akhlak.
Di samping itu, Kiai Ali Maksum memiliki keistemewaan dalam hafalan, beliau juga memiliki ingatan yang tajam dalam kosakata bahasa Arab, tulisan (khat) Arabnya bagus sekali, indah.
Kiai Ali Maksum berpesan agar santri-santrinya percaya diri. Beliau itu kemanapun memakai sarung, bahkan ketika mengajar atau menghadiri undangan resmi. Kiai Ali Maksum mengajari saya dan santri-santrinya untuk tetap tenang pada situasi apapun. Tidak mudah panik, menghadapi masalah apapun dengan tenang dengan pikiran dan hati yang jernih.
(Kutipan dari Pengantar Buku: KH Ali Maksum Karya Ahmad Athoilah)







