Khutbah Idul Adha di Saat Corona
Khutbah Idul Adha di Saat Corona
MENEGUHKAN RELIGIUSITAS DAN SOLIDARITAS SOSIAL
DI TENGAH MUSIBAH CORONA
Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim M.Ag
الله أ ْكَبر 9 x . الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا اله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد الحمد لله المبدئ المعيد الفعال لما يريد ونشكره مقرونا بالتحميد ونسأله من فضله المزيد أشهد أن لا اله إلا الله الغني الحميد وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الذي جاء بالقرآن المجيد, و نصلي ونسلم على سيدنا محمدوعلى آله وصحبه إلى يوم لا فرق يبن الملوك و العبيد قال الله تعالى في القرآن الكريم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ) (الحشر : 18 أما بعد فيا عباد الله أوصيني واياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون
Hadirin wal Hadirat Kaum Muslimin-Muslimat Jamaah Shalat Idul Adha yang berbahagia
Khutbah Idul Fitri kali ini adalah Meneguhkan Religiusitas dan Solidaritas Sosial Di Tengah Musibah Corona
Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd
Lebaran tahun Idul Adha ini memang terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun yang kemarin. Pasalnya, kita semua sekarang sedang dirundung musibah, yang bukan saja mengguncang ekonomi dunia, tetapi juga merubah pola perilaku kita dalam berinteraksi sosial dan dalam melaksanakan kegiatan ritual keagamaan. Jika tahun-tahun kemarin, kita bisa melaksanakan berjamaah ke masjid dengan meriah, pengajian kegiatan sosial-keagamaan yang melibatkan kerumunan massa, maka tahun ini rasanya kita harus bersabar untuk sementara, mengurangi kegiatan-kegiatan yang banyak melibatkan kerumunan massa. Kita juga harus rela untuk tidak pergi haji dan umrah tahun ini, tidak pula mudik sementara, bukan karena kita tidak cinta keluarga, tapi justru karena kita cinta kepada mereka, dan karena kita taat kepada aturan agama dan pemerintah, demi memutus dan mencegah penyebaran virus covid 19.
Namun demikian, satu hal yang harus tetap kita syukuri bersama adalah bahwa kita masih diberikan umur panjang, sehat wal afiat, dan bisa berkumpul dengan anak-anak dan keluarga. Kita juga bersyukur masih dapat istiqamah beribadah, meski mungkin lebih banyak di rumah. Mudah-mudahan Allah Swt berkenan meridloi kita semua, menerima semua amal ibadah kita, dan mengampuni dosa-dosa dan kesalahan kita. Amin yâ Mujibas Sâ`ilin. Semoga ritual ibadah yang kita kerjakan mampu memberikan nilai transformasi spiritual dan sosial.
Untuk itu, mari kita teguhkan nilai-nilai religiusitas dan solidaritas sosial di tengah wabah corona ini dengan bersedia untuk membantu saudara sanak famili dan saudara kita yang terdampak secara ekonomi. Mari kita terus menjaga istiqamah dalam ibadah dan berdoa kita kepada Allah Swt, agar tetap diberikan kekuatan dan kesabaran menghadapi musibah corona ini. Mari kita berusaha menjadi lebih arif dan bijaksana, santun dalam bertutur kata dan berperilaku. Tidak mudah emosional dan suka menebar ujaran kebencian, kepada siapapun.
Jangan dengan dalih demokrasi dan kebebasan, lalu kita tak dapat mengendalikan diri, sehingga suka menebar berita hoax dan ujaran kebencian di dunia medsos. Mari kita memberikan saran dan kritik yang konstruktif kepada pemerintah untuk menyelesaikan problem bangsa ini. Sampaikan dengan bahasa yang santun dan bijak. Di sisi lain, mari kita juga berikan apresiasi dan dukungan kepada pemerintah dan seluruh jajarannya , serta pihak-pihak terkait yang telah bekerja keras menangani wabah corona ini. Semoga wabah ini segera berlalu dan situasi bisa normal kembali.
Allahu akbar-allahu akbar. Walillahil hamd
Hadirin-wal hadirat kaum muslimin-muslimat yang berbahagia.
Mari kita hikmah dari musibah corona ini. Virus makhluk kecil sebesar nano, ternyata telah membuat kita nyaris tak berdaya, ekonomipun sempat lumpuh. Itu maknanya manusia tidak boleh sombong. Sisi lain, kita juga harus sadar bahwa hidup di dunia ini adalah tempat ujian (al-dunya darul imtihan). Maka kita harus tetap sabar dan tabah dan tahan uji. Kita tetap harus produktif bekerja dan beribadah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Mari kita biasakan pola hidup yang disiplin, cuci tangan, social distancing, memakai masker jika ke luar rumah. Sebab semua itu bagian dari tuntunan agama dan cara menyempurnakan ikhtiar kita. Kita sadar bahwa aktifitas dan kegiatan kita memang menjadi lebih terbatas, karena wabah corona ini. Hal ini harus menjadi perhatian kita semua sebagai warga masyarakat yang baik. Kita tidak boleh ceroboh dan apalagi sombong yang bungkus dengan baju tawakal kepada Allah Swt.
Religiositas dan solidaritas sosial bisa diwujudkan dengan ikut membantu kesulitan saudara-saudara kita yang terkena dampak covid 19, menyembelih binatang Qurban. Nabi Saw bersabda: Man kana `indahu sa`ataun falam yudhahhi fala yaqrubanna mushallâna ( HR Ahmad). Hal itu juga merupakan pemaknaan baru terhadap konsep silaturahmi . Jadi, silaturahmi polanya diwujudkan dengan memberikan daging kurban, santunan dan bantuan sembako kepada mereka yang memerlukan uluran tangan kita. Kita bisa menyapa sauadar-sauadara kita yang ada di non jauh di sana dengan menelpun atau SMS, saling memaafkan, tidak perlu ada lagi kedengkian dan kebencian. Kedengkian dan iri hati hanya akan membuat kita menderita dan gagal meraih bahagia.
Semoga musibah ini juga bisa menjadi rahmat buat kita semua, bukan laknat, meski hal ini memerlukan kejernihan hati nurani. Agak sulit rasanya memahami musibah sebagai rahmat, kecuali orang-orang yang sudah mencapai maqam “mukmin plus” (baca muhsinîn). Siapa muhsinin itu? Dalam al-Quran antara lain dijelaskan, mereka adalah orang yang ahli mendermakan hartanya di jalan Allah Swt, mereka yang berinfak baik di saat senang maupun susah dan menahan amarahnya serta mau memberi maaf kepada orang lain, mereka yang beriman, beramal shalih dan bertakwa kepada Allah Swt (Q.S. al-Maidah 104).
Musibah sebagai rahmat bagi orang-orang mukmin, pernah disampaikan Nabi Saw ketika saat itu terjadi wabah penyakit tha`un atau lepra. (untuk konteks sekarang virus corona), sebagaimana hadis Shahih Bukhari sebagai berikut :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي «أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ صحيح البخاري (4/ 175)
Dari Aisyah ra, istri Nabi Saw dia berkata, Saya bertanya kepada Rasulullah Saw tentang wabah penyakit tha`un (lepra). Maka beliau memberi kabar, bahwa wabah itu adalah azab yang dikirim Allah Swt untuk orang yang dikehendakiNya, namun Allah jadikan wabah itu rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidaklah seseorang mau tetap tinggal di rumah (stay at home) –dengan tetap sabar dan ikhlas, sembari dia yakin bahwa wabah tersebut tidak akan menimpa seseorang, kecuali yang sudah ditetapkan Allah Swt—kecuali baginya akan mendapat bahala seperti orang yang mati syahid. (HR al-Bukhari).
Diantara bentuk rahmat adalah nilai pahala kesabaran dan ampunan bagi mereka yang tabah menghadapi ujian dan musibah ini. Termasuk bentuk rahmat adalah bahwa alam dan lingkungan kita pasca corona semakin membaik. Tengoklah berbagai riset ilmiah yang sudah dipublikasikan terkait dengan perubahan lapisan ozon yang semakin membaik, air laut dan udara yang semakin bersih, sebab tak ada lagi yang buang sampah di tempat-tempat rekreasi. Tempat-tempat maksiat di berbagai belahan dunia juga tutup.
Rupanya, corona telah membersihkan dunia ini dari berbagai limbah kegiatan manusia yang mencemari bumi dan langit. Kalau mau jujur, jangan-jangan sebenarnya yang menjadi virus itu ya perilaku manusia yang mengotori dunia, sedangkan corona itu anti virusnya. Wa Allâhu a`lam bi shawâb.
بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم و ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم استغفروه إنه هو الغفور الرحيم.







