RAMADHAN; MEDIA PEMBINAAN HAWA NAFSU
RAMADHAN; MEDIA PEMBINAAN HAWA NAFSU
Oleh. Mukhlisin Purnomo*

Pada suatu kesempatan penulis pernah mendapat pertanyaan tentang merebaknya kejahatan dan kemaksiatan pada bulan ramadhan padahal terdapat sabda nabi yang menyatakan bahwa; Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka dan setan setan diikat erat-erat (HR. Bukhari). Hadis ini menyiratkan adanya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik bagi orang yang sedang melakukan ibadah puasa mengingat setan telah di belenggu. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, berarti ada yang salah dalam memahami spirit puasa itu sendiri, atau barangkali dalam pelaksanaannya belum dilakukan secara benar dan totalitas.
Puasa sering kali hanya dipahami dari perspektif fiqh saja, yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah. Pemahaman esoteris dan persoalan-persoalan lahiriah ini nampaknya banyak menjadi pedoman sebagian besar kaum musilim dalam melaksanakan ibadah puasa, meskipun secara substansi sudah dianggap cukup namun belum bisa dikatakan memadai bila diukur menggunakan parameter al-Qur’an dan sunnah.
Perintah puasa yang tertuang dalam surat al-Baqarah ayat 183 mencakup dua jenis puasa jasad dan puasa jiwa. Puasa jasad adalah puasa yang lazimnya ditemui dalam kitab-kitab fiqh. Sedang puasa jiwa menahan seluruh anggota badan dari seluruh dosa dan mengosongkan hati dari seluruh penyebab dosa. Dua jenis puasa ini harus berjalan harmonis agar dapat meraih derajat taqwa. Dalam tradisi sufi taqwa adalah kedudukan yang tinggi, di bawahnya ada iman, di bawahnya lagi adalah islam. Dengan ibadah puasa Allah berkehendak meningkatkan derajat dari makam iman – wahai orang-orang yang beriman- menjadi orang-orang yang bertaqwa. Karenanya, puasa dianggap batal bila lahiriahnya saja yang puasa sementara batiniahnya tidak. Salah satu riwayat hadis yang menegaskan hal itu adalah: “Puasa tidak sekedar menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan yang sia-sia dan kotor .
Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim). Dengan kata lain puasa tidak sekedar melaparkan diri (al-jawwa’), dalam bahasa Jalaluddin Rakhmat (2001) hakikat puasa adalah menahan diri dan pengendalian diri (self restraint).
Aspek pengendalian diri yang diarahkan pada penjinakkan nafsu hewani yang dimiliki oleh setiap orang memang dianggap sebagai suatu pekerjaan yang teramat sulit. Ia menuntut adanya pengendalian gejolak jiwa hewani secara sistematis demi menuruti kehendak ilahi. Melemahnya hawa nafsu ini diharapkan mampu membersihkan jiwa manusia dan mengosongkan air kotor dari residu psikisnya yang negatif. Jika hawa nafsu berhasil dikuasai dan dikendalikan maka manusia akan memperlihatkan ahklak yang mulia. Allah berfirman: Dan Adapun orang-orang yang takut keapda kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (QS.79:40-41).
Potensi hawa nafsu yang terdapat pada diri manusia memang tidak mungkin dimatikan karena ia memang salah software yang sengaja dipasang oleh Allah untuk melengkapi kebahagiaan dunia dan akhirat. Bukankah nafsu makan dibutuhkan untuk memenuhi hak tubuh agar kuat, nafsu syahwat menyebabkan manusia memiliki keturunan, dan nafsu amarah adalah pemicu semangat jihad? Nafsu-nafsu tersebut jika tidak bina sesuai dengan kehendak ilahi maka akan dikendalikan oleh setan. Setan tidak pernah berhenti melakukan pembinaan pada nafsu ke arah yang negative, “Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS.12: 53). Sebaliknya jika hawa nafsu dikelola dikendalikan dengan baik akan menghantarkan seseorang memiliki akhlak mulia.
Kehadiran Ramadhan merupakan kesempatan yang berharga untuk melatih dan membina hawa nafsu agar mudah dikendalikan terlebih Allah telah mengikat erat-erat setan yang terkutuk. Segala aspek hawa nafsu sebisa mungkin ditaklukkan dengan sekuat tenaga agar ketika setan telah terbebas kembali tidak lagi memiliki kemampuan untuk menguasainya. Pada saat ia keluar dari madrasah Ramadhan menjadi manusia yang lebih sempurna dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa dan dibina sedemikian rupa untuk meninggalkan berbagai macam maksiat dan mudah melaksankan kebajikan.
*Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kankemenag Kab. Bantul dan Sekretaris Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) DI Yogyakarta.







